Sabtu, 13 Juli 2013

Ilmu Antropologi dari Film A Long Visit

Sinopsis

“Apa kau tahu Hal yang terbaik yang ku lakukan dalam hidupku? Adalah melahirkanmu. Hal yang kusesali dalam hidupku adalah melahirkanmu juga. Maafkan ibu berkata seperti ini, Tapi jadilah anakku lagi di kehidupan mendatang Ibu menyayangimu, putriku.” Kata terakhir dari seorang ibu terhadap anaknya yang berada di surga, dengan penuh kasih dan peluh akan air mata yang mendalam.

A Long Visit merupakan film yang sukses membuat para penonton dimainkan emosi jiwa dan raganya  bahkan sampai membanjiri air mata, dikarenakan filmya yang menceritakan kisah seorang Ibu. Film ini disajikan dalam alur mundur yang di dalam kisahnya   menceritakan ada seorang perempuan, anak kedua dari tiga bersaudara. Dalam perjalanan pulang ke kampungnya itulah ia bercerita tentang masa kecilnya.

Jisuk sangat disayangi ibunya dengan alasan kakak perempuanya yang telah meninggal, berbeda dengan adik laki-lakinya yang sering dimarahi. Sewaktu kecil dia sangat lancar membaca, hingga ketika di bus ayahnya dia selalu disuruh menjadi seorang turist guide. Setelah pulang ke  rumah, melewati tepian jalan dengan hamparan sawah, Jisuk disambut ibunya dengan riang gembira. Hubungan keluarga Jisuk kurang baik, ia lebih dekat dengan Ibunya.

Jisuk remaja sangat pintar. Sering Jisuk mengantar Ibunya pergi belanja. Dan di sana Jisuk sering mendapati ibunya membeli makanan dengan menawar barang lebih murah. Jisuk mulai tidak tahan ketika ayah dan ibunya sering bertengkar hanya karna masalah makanan. Ia sering menangis dan mengasingkan diri untuk bertemu sahabatnya Mijeong. Ia kadang berjanji ketika besar ingin segera kuliah di Seoul dan hidup bebas, dia juga tidak ingin menikah kalau ternyata menikah hanya menyakitkan hati.

Jisuk kini sudah dewasa, suatu malam ia mendapati ibu dan ayahnya seding bertengkar. Karna ia geram, ia menyuruh ayahnya membunuh ibunya langsung bukan membunuh sedikit demi sedikit. Di sebuah gazebo, Jisuk menyuruh ibunya meninggalkan ayahnya dan pergi ke Seoul tapi ibunya tidak ingin pergi. Ia seperti ini karna ingin melindungi Jisuk, ia menyatakan bahwa hidupnya hanya ingin membuat Jisuk bahagia.
Jisuk akhirnya mendapatkan beasiswa ke Seoul. Ini kali pertama Jisuk meninggalkan keluarganya. Diperjalanan, Jisuk membaca surat dari ibunya, ia baru sadar ternyata uang yang disisikan ibunya telah dipersiapkan untuk Jisuk. Di sepanjang perjalan ke kota Seoul ia menangis karena terharu dengan surat ibunya. Ia pun sadar akan pengorbanan ibunya selama ini.

Disana, akhirnya ia jatuh cinta dengan seorang pria selama hari universitasnya. Karna perbedaan latar belakang, orangtua pria tidak setuju menikahkan anaknya. Ibunya bekerja sebagai orang tengah untuk memastikan putrinya bisa menikah dengan pria yang diimpikannya, meskipun keluarga laki-laki awalnya menentang pernikahan mereka.

Setelah Jisuk menikah dan menjadi seorang ibu sendiri, ibunya masih memperlakukan dia seperti anak kecil. Beberapa tahun kemudian ayahnya meninggal, Jisuk tidak ingat seberapa ia memiliki pengalaman bahagia dengan ayahnya. Ternyata biarpun ayahnya keras dalam mendidiknya, ia sadar ayahnya juga sayang terhadap dirinya, namun tak tahu bangaimana cara mengungkapkan rasa sayangnya.

Suatu hari Jisuk membuat kunjungan mendadak ke ibunya dan membawanya ke perjalanan untuk menonton musim gugur. Ibunya curiga karna jisuk datang berkunjung terlalu lama, ia berfikir Jisuk bertengkar dengan suaminya Junsu. Namun ketika ibunya menelepon Junsu, ia memberitahu dengan frustasi bahwa sebenarnya Jisuk sedang mengidap penyakit kanker pankreas stadium akhir.
Junsu menagis begitupun Ibu Jisuk. Ia tidak menyadari anaknya mengalami penderitaan begitu berat. Saat malam terakhir kunjungan, Ibu Jisuk menagis, ia berjanji akan melindungi Jisuk, ia meyakinkan Jisuk bahwa tidak akan ada yang memisahkan mereka dan bahwa mereka akan selalu bersama. Di akhir kunjungan, Jisuk akhirnya meninggal. Ibunya merasa hidupnya telah berakhir. Namun ia menyakinkan Jisuk bahwa ia akan menjadi ibunya lagi kelak di kehidupan selanjutnya. Ia hanya ingin Jisuk menunggu sedikit lebih lama. Karna Ibunya hidup hanya untuknya.

Ilmu Atropologi yang Terdapat Dalam Film  A Long Visit

Film ini sangat bermanfaat bagi para penontonnya, karena dari kisahnya bisa kita ambil menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga untuk diri kita. Terutama bagi kita yang kurang menghargai sosok seorang ibu. Ibu yang selalu kita campakkan, kita tak pedulikan, dan selalu kita anggap sebagai sesuatu yang merepotkan. Inilah yang bisa kita pelajari dari Film ini untuk bersikaplah lembut kepada ibu, selagi ibu masih ada.
Berikut saya kutip beberapa nilai Antropologi yang mencangkup nilai kepribadian seorang ibu yang saya deskripsikan melalui beberapa adegan: 

1.      Ibu selalu tampil sederhana

Ibu Jisuk lahir dalam keluarga yang sangat sederhana, ia tak pernah disekolahkan oleh kedua orang tuannya. Kesehariannya sangat memilukan harapan yang ingin dia capai tak kunjung datang karena ia menyessal tak pernah disekolahkan oleh kedua orang tuanya. Ia pun berjanji jika ia menikah dan mempunyai seorang anak ia akan membahagiakan anaknya dan akan menyekolahkan anaknya sampai jenjang kuliah demi merubah kehidupannya kelak tidak sama dengan ibunya. Kesederhanaan ibu Jisuk masih ia terapkan setelah menikah dengan ayah Jisuk yang berprofesi sebagai supir bis. Suaminya mempunyai keterbatasan fisik karena kecelakaan yang menyebabkan kaki kanannya tidak normal. Beberapa kesederhanaan yang ia lakukan dalam kehidupannya yaitu sebagai berikut :
a.       Mencukur rambut sendiri dengan penutup badan terbuat dari koran dan tidak pernah memikirkan untuk pergi ke salon;
b.      Lebih memilih naik bus dari pada kereta api untuk menuju ke kota Seoul dengan alasan karena suaminya berprofesi sebagai Supir bis;
c.       Memakai baju yang sederhana ketika kunjungan ke sekolah anaknya, sampai membuat anaknnya malu;
d.      Rela membeli sayur dengan harga lebih murah, demi menyisahkan uang untuk bekal kuliah anaknya;
e.       Menjenguk dan membawakan makanan setiap bulanya ke kosan Jisuk, padahal di kota Seoul makanan yang ibunya bawa sudah banyak, ibunya melakukan ini dengan alasan, ia akan membawa makanan yang Jisuk suka langsung darinya;
f.       Memakai  pakaian Hanbok yang sangat sederhana ketika acara Pelamaran anaknya.



2.      Ibu selalu menyembunyikan kesedihannya

Ibu Jisuk adalah sosok ibu yang sangat tegar, pengalaman masa lalu dan proses hidupnya yang begitu kelam yang mengubah dirinya seperti ini, sehingga apapun bentuk kekerasan hidup pernah ia makan dan jalani. Dan satu-satunya harapan ia untuk bisa tetap bertahan dan selalu menyembunyikan kesedihannya adalah anaknya Jisuk dan adiknya.

Kaitan dengan Ilmu Antropologi adalah “Seorang ibu tidak akan tega memperlihatkan kesedihannya kepada Anak-anaknya karena Itu akan mempengaruhi Psikologi anaknnya, seorang anak akan merasa sedih apabila ibunya nampak sedih,  seorang anak belum bisa mengerti bagaimana cara yang tegar untuk diberi rasa kesedihan, ketika seorang anak diberikan rasa sedih dari kesedihan seorang ibu, yang akan ia lakukan hanya bisa menangis, bertanya dan diam, masa ini akan terus tersimpan di dalam memori sampai dewasa”

Ibu Jisuk selalu tersenyum setelah mengehadapi konflik kekerasan suaminya, sehabis mengalami perkelahian ia sama sekali tidak bersedih dan menangis seperti ibu-ibu yang lain, juga tidak ingin bercerai dengan suaminya dengan alasan demi kebahagiaan Anak-anaknya. Setelah suaminya puas memukulinya, ia masih sempat untuk memikirkan persiapan makan malam untuk keluarganya, sungguh sosok ibu yang luar biasa, sangat tegar dan penuh kasih. Jisuk dan Adiknya yang mendengar perkelahian orang tuanya langsung sedih dan tidak tahu mau berbuat apa, hanya bisa menangis dan merasa kasihan dengan ibunya.

Kaitan dengan Ilmu Antripologi adalah “Ibu yang memiliki hati tegar adalah adalah ibu dambaan bagi semua orang, Ibu Jisuk merupakan salah satunya. Jika ditanya apa yang membuat ibu sangat tegar dalam menghadapi pertengkaran dengan suaminya? Karena seorang ibu pasti akan berpikir matang, jika aku melawan dan ikut marah maka masalah yang akan timbul menjadi lebih runyam dan tak kunjung selesai. Seorang ibu yang tegar adalah seorang ibu yang rela menjadi peredam amarah bagi suami dan anak-anaknya, demi terciptanya keluarga yang harmonis. Ibu lah malaikat perdamaian dalam rumah Tangga. Ketika ibu ditanya ibu apa yang terjadi? Ibu yang tegar akan menjawab dengan hatinya yang lembut, Ibu tidak apa-apa tidak perlu dikhawatirkan”

3.      Ibu yang tak pernah malu demi anaknya bahagia.

Ibu Jisuk merupakan sosok ibu yang selalu berusaha untuk membuat anak-anaknya bahagia, walaupun usaha yang ia lakukan berujung tidak seperti yang anaknya inginkan, karena dianggap memalukan harga diri anaknya. Namun Ibu Jisuk terus tabah dan memahami apa yang menjadi keinginan Anaknya.

Waktu kunjungan Orang tua murid, Ibu Jisuk bermaksud  untuk datang ke sekolah demi anaknya dianggap mempunyai seorang Ibu sama seperti anak-anak normal yang lain. Dengan pakaian yang sederhana dan bekal untuk Jisuk, dengan hati bahagia ibu datang ke sekolah untuk melihat langsung kegiatan belajar Jisuk. Namun apa yang terjadi, Jisuk sang anak tak mengira ibunya akan datang, sebelumnya ia sudah memperingatkan ibunya agar tidak datang ke sekolah. Pada saat dimulainya jam pelajaran Jisuk izin ke Toilet, padalah ia bermaksud untuk menemui ibunya dan segera ia menyuruh ibunya untuk pulang. Jisuk malu jika ibunya masuk ke dalam kelas karena pakaian ibunya yang sangat sederhana. Namun ibu Jisuk justru melakukan hal yang diluar dugaan, ia berpikir dan berintrospeksi bahwa dirinya akan malu juga jika mempunyai seorang ibu yang sama dengan dirinya. Dengan hati yang penuh ketabahan ibu Jisuk memberi bekal makanan pada Jisuk dan langsung mempersilahkan anaknya untuk kembali masuk kelas, dan pulang ia dengan hati yang penuh pertanyaan akan sosok dirinya.


            Kaitan dengan Ilmu Atropologi adalah “Kepribadian seorang ibu merupakan yang terindah dalam keluarga. Rasa ingin membahagiakan seorang anak adalah hal yang utama bagi dirinya, tidak mau menyerah demi anaknya bahagia, dan yang paling utama adalah mengerti akan kemauan si anak. Seorang ibu yang bijak merupakan dia selalu mencoba untuk memahami dan mengerti kondisi anaknya dengan baik, bukan sebaliknya ia yang selalu ingin dimengerti oleh anaknya. Ketika anaknya malu akan sosok ibunya, ibu yang bijak akan merenung dan berpikir, mengapa anak saya berpikiran seperti itu? Dan dicari solusinya. Bukan hanya sekedar memberi nasehat dengan penuh geram seolah hanya dirinya yang benar ”. “Seorang anak yang melawan orang tuanya bukan berarti ia merasa lebih hebat dari orang tuannya, namun ia ingin sekali pendapatnya dihargai oleh orang tuanya” Orang tua yang bijak akan menanggapi hal ini dengan penuh pemikiran yang tenang dan hati yang Tegar.


4.      Seorang Anak Yang Ingin Menghabiskan Sisa Waktunya dengan Ibu

Jisuk telah di-diagnosa dokter mengidap kanker Pankreas stadium akhir, dan diprediksikan tiga hari kemudian akan meninggal dunia. Untuk menghabiskan sisa waktunya Jisuk lebih memilih berkunjung ke rumah ibunya . Hal ini ia lakukan karena ia sadar tidak pernah menjadi anak yang berbakti kepada ibunya, selalu  membuat kesepian, juga mengecewakan karena menutup telepon lebih dulu.

Kunjungannya disambut bahagia oleh ibuya Namun agar tidak melunturkan kesenangan ibunya atas kunjungan darinyanya, Jisuk sengaja menyembunyikan rahasia penyakit yang ia derita. Hari Pertama ia habiskan untuk memakan makanan buatan ibunya yang ia rindukan, juga mengunjungi sahabat kecilnya Mijeong, ia berpesan kepada sahabatnya untuk seringlah menjenguk ibunya, karena aku akan pergi lama untuk beberapa hari ke depan. Ia pun menyembunyikan Penykitnya kepada sahabat terbaiknya. Sebelum tidur ibunya curiga kepada jisuk. Apa kau sedang bertengkar dengan suamimu? Mengapa kau datang sendirian? Apa suamimu tahu kau datang ke sini? Jisuk hanya menjawab Tidak, aku datang ke sini hanya karena aku kangen sama Ibu. Ia mnyembunyikan rahasinyanya kembali.

Di hari kedua, jisuk mengajak ibunya makan di luar dan pergi  ke perjalanan musim gugur, di sana mereka terlihat sangat ceria dan akrab, setelah itu Jisuk membelikan ibu beberapa baju di butik, dan mengajak ibunya untuk foto bersama di studio. Hari ini adalah hari terindah bagi mereka untuk terakhir kalinya. Hingga tiba saatnya ibu Jisuk mulai curiga dan menelpon Jinsu suami Jisuk, untuk menanyakan kebenaran yang terjadi pada anaknya. “Mengapa dia Bertingkah aneh hari-hari ini, Apa kalian sedang bertengkar?” Tanya ibu, “Dia tidak sedang bertingkah aneh Namun hanya kangen dengan Ibunya”  Jawab Jinsu dengan nada terengah. Akhirnya Jinsu memberitahukan rahasia Jisuk yang sebenarnya. Ibunya pun hanya bisa bersedih hati dan menangis mendengar kabar ini. Ia tahu yang harus ia lakukan untuk kedepannya adalah selalu mendukung Jisuk dan menghibur hatinya.

Esok  Hari Jisuk pergi pamit kepada ibunya untuk kembali ke Seoul demi bertemu kembali dengan Suami dan Anaknya. Dengan penuh deraian Air mata Jisuk meninggalkan Ibunya. Hal yang membuat aku sedih adalah ini hari terakhir aku melihat ibu. Kereta pun berjalan, lambaian tangan mengisyaratkan kepergian Jisuk. Ibu jisuk berteriak “Anakku” sambil berlari mengejar Kereta dengan tertatih.Dan ketika sampai di Seoul Jisuk pun meninggal.

Kaitan dengan Ilmu Antropologi adalah “ Seorang anak yang ingin menghabiskan masa terakhirnya dengan ibunya adalah hal yang terindah bagi seorang anak, karena dengan berada di sisi seorang ibu hati seorang anak akan merasa nyaman. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku menjadi Jisuk. Ibu adalah sosok yang paling mengerti tentang kondisi kita, itulah alasannya mengapa Seorang anak ingin menghabiskan waktu terakhirnya bersama dengan orang yang bisa membuat tersenyum bahagia, Lantas mengapa Jisuk tidak menghabiskn sisa terakhirnya dengan suami dan anaknya? Karena ia ingin sekaligus meminta maaf atas perilakunya selama ini terhadap ibunya, yang tidak berbakti, sering membuat kesepian , sering membuat sedih, dan menutup telepon lebih dahulu. Seorang anak yang baik adalah ia yang meminta maaf kepada Ibunya atas kesalahan-kesalahannya sebelum ia pergi untuk selamanya. Perasaan seorang anak tidak akan tenang jika melihat ibunya sedih karena kita.”

“Ibu maafkan aku yang telah mendahului engkau, ibu harus hidup bahagia tanpa aku, ibu tak boleh merasa sepi, maaf kan aku yang sungguh bodoh, membiarkan ibu tak bisa tidur karena khawatir. ibu ku jika aku mendengar kematian tentang mu aku pasti akan menemui ibu, aku takkan membiarkan ibu tersesat, aku akan mencari ibu.. Hal yang membuat aku bahagia adalah, aku bisa dilahirkan dari rahim mu ibu, Aku ingin engkau menjadi Ibuku lagi di masa kelak” – Pesan Terakhir dari seorang anak





   Purwokerto 22 April 2013




                                                                                                   Ibnu Abdul Latif
                                                                                                            

Tidak ada komentar: