Sinopsis
“Apa
kau tahu Hal yang terbaik yang ku lakukan dalam hidupku? Adalah melahirkanmu. Hal
yang kusesali dalam hidupku adalah melahirkanmu juga. Maafkan ibu berkata
seperti ini, Tapi jadilah anakku lagi di kehidupan mendatang Ibu menyayangimu, putriku.”
Kata terakhir dari seorang ibu terhadap anaknya yang berada di surga, dengan
penuh kasih dan peluh akan air mata yang mendalam.
A Long Visit merupakan film yang
sukses membuat para penonton dimainkan emosi jiwa dan raganya bahkan sampai membanjiri air mata, dikarenakan
filmya yang menceritakan kisah seorang Ibu. Film ini disajikan dalam alur
mundur yang di dalam kisahnya menceritakan
ada seorang perempuan, anak kedua dari tiga bersaudara. Dalam perjalanan pulang
ke kampungnya itulah ia bercerita tentang masa kecilnya.
Jisuk sangat disayangi ibunya dengan
alasan kakak perempuanya yang telah meninggal, berbeda dengan adik laki-lakinya
yang sering dimarahi. Sewaktu kecil dia sangat lancar
membaca, hingga ketika di bus ayahnya dia selalu disuruh menjadi seorang turist
guide. Setelah pulang ke rumah, melewati tepian jalan dengan hamparan
sawah, Jisuk disambut ibunya dengan riang gembira. Hubungan keluarga Jisuk
kurang baik, ia lebih dekat dengan Ibunya.
Jisuk
remaja sangat pintar. Sering Jisuk mengantar Ibunya pergi belanja. Dan di sana
Jisuk sering mendapati ibunya membeli makanan dengan menawar barang lebih
murah. Jisuk mulai tidak tahan ketika ayah dan ibunya sering bertengkar hanya
karna masalah makanan. Ia sering menangis dan mengasingkan diri untuk bertemu
sahabatnya Mijeong. Ia kadang berjanji ketika besar ingin segera kuliah di
Seoul dan hidup bebas, dia juga tidak ingin menikah kalau ternyata menikah
hanya menyakitkan hati.
Jisuk
kini sudah dewasa, suatu malam ia mendapati ibu dan ayahnya seding bertengkar.
Karna ia geram, ia menyuruh ayahnya membunuh ibunya langsung bukan membunuh
sedikit demi sedikit. Di sebuah gazebo, Jisuk menyuruh ibunya meninggalkan
ayahnya dan pergi ke Seoul tapi ibunya tidak ingin pergi. Ia seperti ini karna
ingin melindungi Jisuk, ia menyatakan bahwa hidupnya hanya ingin membuat Jisuk
bahagia.
Jisuk
akhirnya mendapatkan beasiswa ke Seoul. Ini kali pertama Jisuk meninggalkan
keluarganya. Diperjalanan, Jisuk membaca surat dari ibunya, ia baru sadar ternyata
uang yang disisikan ibunya telah dipersiapkan untuk Jisuk. Di sepanjang
perjalan ke kota Seoul ia menangis karena terharu dengan surat ibunya. Ia pun
sadar akan pengorbanan ibunya selama ini.
Disana,
akhirnya ia jatuh cinta dengan seorang pria selama hari universitasnya. Karna
perbedaan latar belakang, orangtua pria tidak setuju menikahkan anaknya. Ibunya
bekerja sebagai orang tengah untuk memastikan putrinya bisa menikah dengan pria
yang diimpikannya, meskipun keluarga laki-laki awalnya menentang pernikahan
mereka.
Setelah
Jisuk menikah dan menjadi seorang ibu sendiri, ibunya masih memperlakukan dia
seperti anak kecil. Beberapa tahun kemudian ayahnya meninggal, Jisuk tidak
ingat seberapa ia memiliki pengalaman bahagia dengan ayahnya. Ternyata biarpun
ayahnya keras dalam mendidiknya, ia sadar ayahnya juga sayang terhadap dirinya,
namun tak tahu bangaimana cara mengungkapkan rasa sayangnya.
Suatu
hari Jisuk membuat kunjungan mendadak ke ibunya dan membawanya ke perjalanan
untuk menonton musim gugur. Ibunya curiga karna jisuk datang berkunjung terlalu
lama, ia berfikir Jisuk bertengkar dengan suaminya Junsu. Namun ketika ibunya
menelepon Junsu, ia memberitahu dengan frustasi bahwa sebenarnya Jisuk sedang
mengidap penyakit kanker pankreas stadium akhir.
Junsu menagis
begitupun Ibu Jisuk. Ia tidak menyadari anaknya mengalami penderitaan begitu
berat. Saat malam terakhir kunjungan, Ibu Jisuk menagis, ia berjanji akan
melindungi Jisuk, ia meyakinkan Jisuk bahwa tidak akan ada yang memisahkan
mereka dan bahwa mereka akan selalu bersama. Di akhir kunjungan, Jisuk akhirnya
meninggal. Ibunya merasa hidupnya telah berakhir. Namun ia menyakinkan Jisuk
bahwa ia akan menjadi ibunya lagi kelak di kehidupan selanjutnya. Ia hanya
ingin Jisuk menunggu sedikit lebih lama. Karna Ibunya hidup hanya untuknya.
Ilmu
Atropologi yang Terdapat Dalam Film A Long
Visit
Film ini sangat bermanfaat bagi para penontonnya,
karena dari kisahnya bisa kita ambil menjadi sebuah pelajaran yang sangat
berharga untuk diri kita. Terutama bagi kita yang kurang menghargai sosok
seorang ibu. Ibu yang selalu kita campakkan, kita tak pedulikan, dan selalu
kita anggap sebagai sesuatu yang merepotkan. Inilah yang bisa kita pelajari
dari Film ini untuk bersikaplah lembut kepada ibu, selagi ibu masih ada.
Berikut saya kutip beberapa nilai Antropologi
yang mencangkup nilai kepribadian seorang ibu yang saya deskripsikan melalui
beberapa adegan:
1.
Ibu selalu tampil sederhana
Ibu Jisuk lahir dalam keluarga yang
sangat sederhana, ia tak pernah disekolahkan oleh kedua orang tuannya.
Kesehariannya sangat memilukan harapan yang ingin dia capai tak kunjung datang karena
ia menyessal tak pernah disekolahkan oleh kedua orang tuanya. Ia pun berjanji
jika ia menikah dan mempunyai seorang anak ia akan membahagiakan anaknya dan akan
menyekolahkan anaknya sampai jenjang kuliah demi merubah kehidupannya kelak
tidak sama dengan ibunya. Kesederhanaan ibu Jisuk masih ia terapkan setelah
menikah dengan ayah Jisuk yang berprofesi sebagai supir bis. Suaminya mempunyai
keterbatasan fisik karena kecelakaan yang menyebabkan kaki kanannya tidak
normal. Beberapa kesederhanaan yang ia lakukan dalam kehidupannya yaitu sebagai
berikut :
a.
Mencukur rambut sendiri dengan penutup badan terbuat
dari koran dan tidak pernah memikirkan untuk pergi ke salon;
b.
Lebih memilih naik bus dari pada kereta api untuk
menuju ke kota Seoul dengan alasan karena suaminya berprofesi sebagai Supir
bis;
c.
Memakai baju yang sederhana ketika kunjungan ke sekolah
anaknya, sampai membuat anaknnya malu;
d.
Rela membeli sayur dengan harga lebih murah, demi
menyisahkan uang untuk bekal kuliah anaknya;
e.
Menjenguk dan membawakan makanan setiap bulanya ke
kosan Jisuk, padahal di kota Seoul makanan yang ibunya bawa sudah banyak,
ibunya melakukan ini dengan alasan, ia akan membawa makanan yang Jisuk suka
langsung darinya;
f.
Memakai pakaian
Hanbok yang sangat sederhana ketika acara Pelamaran anaknya.
2.
Ibu selalu menyembunyikan kesedihannya
Ibu Jisuk adalah sosok ibu yang
sangat tegar, pengalaman masa lalu dan proses hidupnya yang begitu kelam yang
mengubah dirinya seperti ini, sehingga apapun bentuk kekerasan hidup pernah ia
makan dan jalani. Dan satu-satunya harapan ia untuk bisa tetap bertahan dan
selalu menyembunyikan kesedihannya adalah anaknya Jisuk dan adiknya.
Kaitan dengan Ilmu Antropologi adalah
“Seorang ibu tidak akan tega memperlihatkan kesedihannya kepada Anak-anaknya
karena Itu akan mempengaruhi Psikologi anaknnya, seorang anak akan merasa sedih
apabila ibunya nampak sedih, seorang anak
belum bisa mengerti bagaimana cara yang tegar untuk diberi rasa kesedihan,
ketika seorang anak diberikan rasa sedih dari kesedihan seorang ibu, yang akan ia
lakukan hanya bisa menangis, bertanya dan diam, masa ini akan terus tersimpan
di dalam memori sampai dewasa”
Ibu Jisuk selalu tersenyum setelah
mengehadapi konflik kekerasan suaminya, sehabis mengalami perkelahian ia sama
sekali tidak bersedih dan menangis seperti ibu-ibu yang lain, juga tidak ingin
bercerai dengan suaminya dengan alasan demi kebahagiaan Anak-anaknya. Setelah
suaminya puas memukulinya, ia masih sempat untuk memikirkan persiapan makan
malam untuk keluarganya, sungguh sosok ibu yang luar biasa, sangat tegar dan
penuh kasih. Jisuk dan Adiknya yang mendengar perkelahian orang tuanya langsung
sedih dan tidak tahu mau berbuat apa, hanya bisa menangis dan merasa kasihan
dengan ibunya.
Kaitan dengan Ilmu Antripologi adalah
“Ibu yang memiliki hati tegar adalah adalah ibu dambaan bagi semua orang, Ibu
Jisuk merupakan salah satunya. Jika ditanya apa yang membuat ibu sangat tegar
dalam menghadapi pertengkaran dengan suaminya? Karena seorang ibu pasti akan
berpikir matang, jika aku melawan dan ikut marah maka masalah yang akan timbul
menjadi lebih runyam dan tak kunjung selesai. Seorang ibu yang tegar adalah
seorang ibu yang rela menjadi peredam amarah bagi suami dan anak-anaknya, demi
terciptanya keluarga yang harmonis. Ibu lah malaikat perdamaian dalam rumah
Tangga. Ketika ibu ditanya ibu apa yang terjadi? Ibu yang tegar akan menjawab
dengan hatinya yang lembut, Ibu tidak apa-apa tidak perlu dikhawatirkan”
3.
Ibu yang tak pernah malu demi anaknya bahagia.
Ibu Jisuk merupakan sosok ibu yang
selalu berusaha untuk membuat anak-anaknya bahagia, walaupun usaha yang ia
lakukan berujung tidak seperti yang anaknya inginkan, karena dianggap memalukan
harga diri anaknya. Namun Ibu Jisuk terus tabah dan memahami apa yang menjadi
keinginan Anaknya.
Waktu kunjungan Orang tua murid, Ibu
Jisuk bermaksud untuk datang ke sekolah
demi anaknya dianggap mempunyai seorang Ibu sama seperti anak-anak normal yang
lain. Dengan pakaian yang sederhana dan bekal untuk Jisuk, dengan hati bahagia ibu
datang ke sekolah untuk melihat langsung kegiatan belajar Jisuk. Namun apa yang
terjadi, Jisuk sang anak tak mengira ibunya akan datang, sebelumnya ia sudah
memperingatkan ibunya agar tidak datang ke sekolah. Pada saat dimulainya jam
pelajaran Jisuk izin ke Toilet, padalah ia bermaksud untuk menemui ibunya dan
segera ia menyuruh ibunya untuk pulang. Jisuk malu jika ibunya masuk ke dalam
kelas karena pakaian ibunya yang sangat sederhana. Namun ibu Jisuk justru
melakukan hal yang diluar dugaan, ia berpikir dan berintrospeksi bahwa dirinya
akan malu juga jika mempunyai seorang ibu yang sama dengan dirinya. Dengan hati
yang penuh ketabahan ibu Jisuk memberi bekal makanan pada Jisuk dan langsung
mempersilahkan anaknya untuk kembali masuk kelas, dan pulang ia dengan hati
yang penuh pertanyaan akan sosok dirinya.
Kaitan
dengan Ilmu Atropologi adalah “Kepribadian seorang ibu merupakan yang terindah
dalam keluarga. Rasa ingin membahagiakan seorang anak adalah hal yang utama
bagi dirinya, tidak mau menyerah demi anaknya bahagia, dan yang paling utama
adalah mengerti akan kemauan si anak. Seorang ibu yang bijak merupakan dia
selalu mencoba untuk memahami dan mengerti kondisi anaknya dengan baik, bukan
sebaliknya ia yang selalu ingin dimengerti oleh anaknya. Ketika anaknya malu
akan sosok ibunya, ibu yang bijak akan merenung dan berpikir, mengapa anak saya
berpikiran seperti itu? Dan dicari solusinya. Bukan hanya sekedar memberi
nasehat dengan penuh geram seolah hanya dirinya yang benar ”. “Seorang anak
yang melawan orang tuanya bukan berarti ia merasa lebih hebat dari orang
tuannya, namun ia ingin sekali pendapatnya dihargai oleh orang tuanya” Orang
tua yang bijak akan menanggapi hal ini dengan penuh pemikiran yang tenang dan
hati yang Tegar.
4.
Seorang Anak Yang Ingin Menghabiskan Sisa Waktunya
dengan Ibu
Jisuk telah di-diagnosa dokter
mengidap kanker Pankreas stadium akhir, dan diprediksikan tiga hari kemudian
akan meninggal dunia. Untuk menghabiskan sisa waktunya Jisuk lebih memilih berkunjung
ke rumah ibunya . Hal ini ia lakukan karena ia sadar tidak pernah menjadi anak
yang berbakti kepada ibunya, selalu
membuat kesepian, juga mengecewakan karena menutup telepon lebih dulu.
Kunjungannya disambut bahagia oleh
ibuya Namun agar tidak melunturkan kesenangan ibunya atas kunjungan darinyanya,
Jisuk sengaja menyembunyikan rahasia penyakit yang ia derita. Hari Pertama ia
habiskan untuk memakan makanan buatan ibunya yang ia rindukan, juga mengunjungi
sahabat kecilnya Mijeong, ia berpesan kepada sahabatnya untuk seringlah
menjenguk ibunya, karena aku akan pergi lama untuk beberapa hari ke depan. Ia
pun menyembunyikan Penykitnya kepada sahabat terbaiknya. Sebelum tidur ibunya
curiga kepada jisuk. Apa kau sedang bertengkar dengan suamimu? Mengapa kau
datang sendirian? Apa suamimu tahu kau datang ke sini? Jisuk hanya menjawab
Tidak, aku datang ke sini hanya karena aku kangen sama Ibu. Ia mnyembunyikan
rahasinyanya kembali.
Di hari kedua, jisuk mengajak ibunya
makan di luar dan pergi ke perjalanan
musim gugur, di sana mereka terlihat sangat ceria dan akrab, setelah itu Jisuk
membelikan ibu beberapa baju di butik, dan mengajak ibunya untuk foto bersama
di studio. Hari ini adalah hari terindah bagi mereka untuk terakhir kalinya.
Hingga tiba saatnya ibu Jisuk mulai curiga dan menelpon Jinsu suami Jisuk,
untuk menanyakan kebenaran yang terjadi pada anaknya. “Mengapa dia Bertingkah
aneh hari-hari ini, Apa kalian sedang bertengkar?” Tanya ibu, “Dia tidak sedang
bertingkah aneh Namun hanya kangen dengan Ibunya” Jawab Jinsu dengan nada terengah. Akhirnya
Jinsu memberitahukan rahasia Jisuk yang sebenarnya. Ibunya pun hanya bisa
bersedih hati dan menangis mendengar kabar ini. Ia tahu yang harus ia lakukan
untuk kedepannya adalah selalu mendukung Jisuk dan menghibur hatinya.
Esok
Hari Jisuk pergi pamit kepada ibunya untuk kembali ke Seoul demi bertemu
kembali dengan Suami dan Anaknya. Dengan penuh deraian Air mata Jisuk meninggalkan
Ibunya. Hal yang membuat aku sedih adalah ini hari terakhir aku melihat ibu. Kereta
pun berjalan, lambaian tangan mengisyaratkan kepergian Jisuk. Ibu jisuk
berteriak “Anakku” sambil berlari mengejar Kereta dengan tertatih.Dan ketika
sampai di Seoul Jisuk pun meninggal.
Kaitan dengan Ilmu Antropologi adalah
“ Seorang anak yang ingin menghabiskan masa terakhirnya dengan ibunya adalah
hal yang terindah bagi seorang anak, karena dengan berada di sisi seorang ibu
hati seorang anak akan merasa nyaman. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika
aku menjadi Jisuk. Ibu adalah sosok yang paling mengerti tentang kondisi kita,
itulah alasannya mengapa Seorang anak ingin menghabiskan waktu terakhirnya
bersama dengan orang yang bisa membuat tersenyum bahagia, Lantas mengapa Jisuk
tidak menghabiskn sisa terakhirnya dengan suami dan anaknya? Karena ia ingin
sekaligus meminta maaf atas perilakunya selama ini terhadap ibunya, yang tidak
berbakti, sering membuat kesepian , sering membuat sedih, dan menutup telepon
lebih dahulu. Seorang anak yang baik adalah ia yang meminta maaf kepada Ibunya
atas kesalahan-kesalahannya sebelum ia pergi untuk selamanya. Perasaan seorang
anak tidak akan tenang jika melihat ibunya sedih karena kita.”
“Ibu maafkan aku yang telah
mendahului engkau, ibu harus hidup bahagia tanpa aku, ibu tak boleh merasa
sepi, maaf kan aku yang sungguh bodoh, membiarkan ibu tak bisa tidur karena
khawatir. ibu ku jika aku mendengar kematian tentang mu aku pasti akan menemui
ibu, aku takkan membiarkan ibu tersesat, aku akan mencari ibu.. Hal yang
membuat aku bahagia adalah, aku bisa dilahirkan dari rahim mu ibu, Aku ingin
engkau menjadi Ibuku lagi di masa kelak” – Pesan Terakhir dari seorang anak
Purwokerto 22 April 2013
Ibnu
Abdul Latif